Langsung ke konten utama

REZEKI DARI SEPATU BEKAS

 

REZEKI DARI SEPATU BEKAS 




Pagi Itu Velkan sedang menalikan sepatunya semangat paginya untuk sekolah surut karena melihat sepatunya yang sudah jelek dia termenung melihat sepatunya.



“andaikan sepatu Velkan gak butut pasti Velkan gak akan diejek terus bu di sekolah” lirih Velkan.

Ibu yang saat itu sedang menjahit pakaian pelanggannya terhenti dan menghampiri Velkan.


“Velkan maafkan Ayah sama Ibu belum bisa membelikan sepatu baru untuk kamu sayang Ibu belum mempunyai uang lebih untuk membeli sepatu Velkan, 

kamu jangan terlalu mendengar ejekan temanmu karena temanmu mengejek itu bukan karena sepatumu tapi karena mereka iri sama kamu dan mereka menyembunyikan rasa irinya dengan mengejek sepatumu itu”


“iya bu, Velkan juga mengabaikan ejekan teman-teman tapi Velkan ingin sepatu baru bu karena sepatu Velkan udah bolong terkadang batu kecil masuk membuat kaki Velkan sakit” keluh Velkan. Ibu terdiam merasakan sedih dalam relung hatinya.


“sudah bu Velkan pergi sekolah dulu” pamit Velkan.

Ibu pun sangat sedih melihat sepatu anaknya yang sudah bolong namun keadaan yang membelitnya pendapatan dari jasa menjahitnya ditambah hasil serabutan usaha suaminya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan bekal sekolah Velkan. 


Ibu semangat menjahit pakaian pelanggannya yang harusnya dikerjakan selama berhari-hari Ibu mencoba mengerjakannya dalam waktu seharian karena Ibu memikirkan keinginan Velkan yang ingin sepatu baru dan meniatkan hasilnya untuk membeli sepatu Velkan.

Semangat Ibu menjahitkan pakaian pun berhasil selesai cepat dan hari itu juga Ibu mendapatkan penghasilan dari jasanya dan Ibu merasa lega ada uang yang cukup untuk sepatu Velkan tapi sayang ada pemilik kontrakan yang menagih uang kekurangan kontrakan bulan lalu. Hingga Ibu pun menyerahkan uang pada Ibu Sinta  pemilik kontrakan.

Ibu kembali menghela napas dan sesaat kemudian Ayah tiba memberikan uang hasil serabutannya pada Ibu.


“yah uang ini Ibu belikan sepatu baru Velkan yah” ucap Ibu sambil memberikan segelas teh hangat untuk Ayah, Ayah memandang Ibu dan menanggapi ucapan Ibu.


“kalau uang itu untuk sepatu Velkan apa besok ada uang untuk makan dan bekal Velkan?” tanya Ayah, Ibu menggelengkan kepala.

“bu jangan terlalu memaksakan untuk membeli sepatu karena uangnya belum ada pakai saja uang itu untuk kebutuhan kita yang lebih penting daripada sepatu” jelas Ayah.

“tapi yah sepatu untuk Velkan juga penting karena sepatunya sudah bolong dan sepertinya sudah tidak nyaman untuk digunakan hampir saja Ibu membelikan sepatu buat Velkan karena Ibu selesai menjahitkan blezzer tapi sayang, 

Ibu Sinta menagih uang kekurangan kontrakan, yang Ibu takutkan semangat dan prestasi Velkan di sekolah jadi berkurang karena sepatunya yang sudah butut menjadi bahan ejekan temannya” ucap Ibu. Ayah meneguk teh hangatnya kemudian mengela napas.


“kalau begitu serahkan sepatu Velkan  pada ahlinya tukang sol sepatu, karena baju yang sudah sobek bolong pun bisa kembali bagus setelah dijahit begitu juga dengan sepatu sejelek apapun sepatu kalau sudah disol sama ahlinya pasti kembali bagus, biayanya juga ekonomis iya kan bu?” usul Bapak, Ibu tersenyum dan setuju dengan usul Bapak.

“iya yah. Iya kalau begitu pulang sekolah Velkan sepatunya langsung Ibu serahkan sama tukang sol sepatu keliling”

Ayah dan Ibu menunggu Velkan pulang dan menunggu tukang sol sepatu tiba, begitu terdengar suara tukang sol sepatu Ibu segera memanggil tukang sol sepatu padahal Velkan belum pulang.


“pak sini pak saya mau sol sepatu anak saya tapi anak saya belum pulang tapi Bapak jangan khawatir ini sudah jam 5 sore pasti anak saya sebentar lagi pulang”


 Pak Maryadi tukang sol sepatu itu menunggu di halaman rumah sederhana Velkan tak lama kemudian Velkan pun tiba.


“akhirnya kamu pulang juga Ky, Ky Bapak sama Ibu mau solkan sepatu kamu sama pak Maryadi. Yah karena Bapak sama Ibu belum bisa membelikan sepatu baru tapi dijamin sepatu kamu sama Pak Maryadi bisa dibuat seperti baru lagi” jelas Ayah.

Velkan pun melepaskan sepatunya.

“emangnya Bapak bisa memperbaiki sepatu yang udah butut gini?” tanya Velkan sambil memberikan sepatunya pada Pak Maryadi, Pak Maryadi tersenyum.

“serahkan saja sama Bapak dijamin bagus dan hasilnya seperti baru lagi” ucapnya meyakinkan Velkan. Velkan pun duduk di samping Pak Maryadi melihat sepatunya yang sedang diperbaiki.

“menurut Bapak sepatu ini masih bagus dan jauh dari kata butut” ucapnya sambil melihat Velkan. Velkan pun bengong dan merasa heran sepatunya dibilang masih bagus.

“bagus dari mana pak, itu kan sudah bolong?” sahut Velkan, sambil memperbaiki sepatu Velkan Pak Maryadi menceritakan pengalamannya.

“dulu Bapak berjalan sana-sini menawarkan jasa sol sepatu namun hanya satu dua orang yang sepatunya disol sama Bapak hingga waktu sampai sore jumlah sepatu yang disol hari itu tidak bertambah Bapak pun enggan untuk pulang ke rumah karena belum mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhan Bapak dan keluarganya akhirnya Bapak pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan salat berjamaah di masjid setelah itu Bapak pulang ketika pulang Bapak menemukan sepatu sport yang sudah parah bolongnya banyak, alas sepatunya sudah terlepas yang tergeletak di pinggir selokan.


Bapak pun mengambilnya dan menurunkan tanggungannya di pinggir jalan untuk memperbaiki sepatu itu, satu jam Bapak memperbaiki sepatu itu Bapak menyimpan sepatu itu diikatkan di atas kotak alat sol kemudian Bapak melanjutkan perjalanan untuk pulang bawa uang seadanya namun Allah Swt menunjukkan kebesaranNya menghendaki rezeki dari sepatu butut itu hingga tidak menyangka orang yang memanggilnya menghentikan langkahnya tertarik pada sepatu yang baru saja diperbaiki hingga membelinya dengan harga yang cukup besar.


Bapak memang tak mematok harga namun orang itu yang membeli sepatu itu dengan ikhlas sebesar 100 rIbu rupiah sungguh saat itu Bapak bersyukur alhamdulilah dari sepatu butut ternyata mendatangkan rezeki yang begitu luar biasa melebihi dari penghasilan Bapak yang biasanya mendapat 50-70 rIbu rupiah. Allah Swt sungguh maha segalanya dan menghendaki segala sesuatu” cerita Pak Maryadi sampai selesai memperbaiki sepatu Velkan.Velkan yang ikut terjun dan menjadi pendengar baik dalam cerita dan pengalaman pak Maryadi membuatnya tak sadar bahwa sepatunyatelah usai diperbaiki.“ini de sepatunya sudah bagus kan?” ucap Pak Maryadi sambil memberikan sepatunya pada Velkan. Velkan terkagetkan dan terkejut dengan hasilnya.



“wow, sepatu Velkan bagus lagi mengkilat lagi warnanya, yah bu sepatu Velkan udah gak butut lagi gak perlu deh Velkan beli sepatu baru bu karena ini lebih dari baru” sahutnya sambil mencoba sepatunya.


“pak terima kasih yah sudah memperbaiki sepatu anak saya” ucap Ibu.

“ini pak sebagai tanda terima kasihnya atas jasa Bapak yang telah memperbaiki sepatu anak saya” tambah Ayah sambil memberikan uang pada Pak Maryadi.

“pak maksih yah sepatu yang asalnya butut juga akan menjadi rezeki buat Velkan” sambung Velkan.

“sama-sama pa, bu, de, kalau gitu saya keliling lagi” pamit Pak Maryadi kemudian berkeliling lagi.

Velkan pun sekolahnya kembali semangat lagi dan tak pernah mengeluh untuk meminta sepatu baru pada orangtuanya karena sepatu bututnya telah menjadi sepatu yang sangat bagus.







Salam Literasi ......

Atimah,S.Pd






















Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbohong yang berujung Malu

  Berbohong yang berujung Malu Hari itu, cuaca cukup panas, ditambah lagi kantin yang terisi penuh dan akhirnya berdesak-desakan. Aku dan Huda bahkan memutuskan untuk tidak jadi berbelanja saking ramenya saat itu. Di sisi lain, waktu jam istirahat tinggal beberapa menit lagi. Akhirnya aku dan Huda hanya membeli minuman dan mengurungkan niat untuk makan di kantin. Karena jika memaksakan makan, maka akan terlambat masuk kelas. “Yaudah Da, kayaknya kalo dipaksain makan, kita nanti bakal telat, kita beli minuman aja. Nanti pas istirahat kedua, kita baru makan. Gimana…?”  Tawarku. Huda yang sejak dulunya hobi makan, terus memaksaku untuk makan. Dia seakan-akan tidak peduli dengan lonceng bel masuk. “Gapapa Ri, kita makan aja, bentar itu mah, ga bakal pake lama..”  sambungnya. “Enggak ah Da, aku gak yakin soal itu, pasti nanti telat. Tapi kalo kamu emang udah lapar banget, yaudah kamu makan aja, tapi aku duluan masuk kelas yaglh..?”  ucapku. “Oke sip Ri, kamu duluan aja ka...

Alasan di balik Meningkatnya Angka Pengangguran

  Alasan di balik Meningkatnya Angka Pengangguran Umumnya pengangguran diakibatkan karena lapangan kerja yang terbatas, sehingga tidak semua orang bisa mendapat pekerjaan. Pengangguran menjadi masalah penting dalam ekonomi negara, karena produktivitas dan pendapatan yang terbatas akan mengakibatkan masalah sosial lainnya, mulai dari perceraian dalam rumah tangga hingga tindak kriminal. Persentase pengangguran dapat dihitung dari perbandingan jumlah pengangguran dan jumlah angkatan kerja. Tidak adanya pendapatan, menyebabkan para pengangguran harus membatasi jumlah konsumsi, Hal ini menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan dan kemakmuran. Pengangguran yang berlangsung lama dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Banyak sekali dampak negatif dari tingginya jumlah pengangguran, selain bagi diri sendiri juga bagi negara. Contohnya yaitu dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan sosial, bahkan hingga mengganggu pembangunan ekonomi negara. Efek jangka panjangnya yaitu menu...

Berita Kelulusan

Beberapa hari terakhir ini, rasa takut dan khawatir tak pernah hilang dari pikiranku. Siang dan malam selalu terbayang seperti apa jadinya bila ternyata anak ku tidak lulus. Aku tidak tahu harus melakukan apa, Hari ini, adalah hari dimana pengumuman kelulusan itu dikeluarkan pihak sekolah. Aku berangkat  bersama ananku   dengan seragam seperti biasa, hanya saja hari dan pikiranku yang tak seperti biasanya. Seluruh murid kelas 9 telah berkumpul di halaman sekolah, sedangkan murid kelas 7-8 diliburkan. Acara dimulai dengan kata sambutan bapak Kepala Sekolah, kemudian diikuti oleh beberapa wali murid. Aku dan anakku dan teman-teman sebenarnya tidak konsentrasi mendengar perkataan para guru, pikiran kami semua diselimuti rasa kecemasan, terhadap keputusan akhir yang hanya berselang beberapa menit lagi. “Baiklah, anak-anak yang kami cintai. Sekarang, hasil kelulusan sudah di tangan bapak. Sebentar lagi akan bapak tempel di dinding kantor. Untuk itu, mohon jangan berdesak-desak...